Laman

Planet Sembilan Diduga Sebagai Penyebab Kemiringan Tata Surya : Studi terbaru oleh ilmuwan California Institute menemukan bahwa Planet Sembilan kemungkinan merupakan penyebab kemiringan seluruh Tata Surya, kecuali Matahari.

Sejak bertahun-tahun lalu, ilmuwan menemukan bahwa zona orbit delapan planet di Tata Surya miring sekitar enam derajat dibandingkan dengan ekuator Matahari. Perbedaan ini telah lama menjadi misteri dalam dunia astronomi. Studi terbaru oleh ilmuwan California Institute of Technology di Pasadena yang dipublikasikan dalam jurnal The Astrophysical Journal menemukan bahwa Planet Sembilan kemungkinan merupakan penyebab kemiringan seluruh Tata Surya, kecuali Matahari. Planet Sembilan merupakan planet di tepi Tata Surya yang kehadirannya ditemukan lewat permodelan matematika dan simulasi komputasi, namun belum dikonfirmasi melalui pengamatan. Jika benar ada, diperkirakan massa planet ini sekitar 10 kali massa Bumi dan mengorbit Matahari pada jarak 500 kali jarak Bumi-Matahari. Penelitian juga menunjukkan bahwa Planet Sembilan memiliki orbit yang lebih miring sekitar 30 derajat dibandingkan orbit delapan planet lainnya. Hasil simulasi komputer yang dilakukan oleh tim ilmuwan, menunjukkan bahwa kemiringan delapan planet resmi dapat dijelaskan dengan pengaruh gravitasi dari Planet Sembilan selama 4,5 miliar tahun—usia Tata Surya.Sejak bertahun-tahun lalu, ilmuwan menemukan bahwa zona orbit delapan planet di Tata Surya miring sekitar enam derajat dibandingkan dengan ekuator Matahari. Perbedaan ini telah lama menjadi misteri dalam dunia astronomi. Studi terbaru oleh ilmuwan California Institute of Technology di Pasadena yang dipublikasikan dalam jurnal The Astrophysical Journal menemukan bahwa Planet Sembilan kemungkinan merupakan penyebab kemiringan seluruh Tata Surya, kecuali Matahari. Planet Sembilan merupakan planet di tepi Tata Surya yang kehadirannya ditemukan lewat permodelan matematika dan simulasi komputasi, namun belum dikonfirmasi melalui pengamatan. Jika benar ada, diperkirakan massa planet ini sekitar 10 kali massa Bumi dan mengorbit Matahari pada jarak 500 kali jarak Bumi-Matahari. Penelitian juga menunjukkan bahwa Planet Sembilan memiliki orbit yang lebih miring sekitar 30 derajat dibandingkan orbit delapan planet lainnya. Hasil simulasi komputer yang dilakukan oleh tim ilmuwan, menunjukkan bahwa kemiringan delapan planet resmi dapat dijelaskan dengan pengaruh gravitasi dari Planet Sembilan selama 4,5 miliar tahun—usia Tata Surya. “Karena Planet Sembilan sangat besar dan orbit yang sangat miring dibandingkan orbit planet lainnya, Tata Surya tak punya pilihan lain kecuali “melenceng” secara perlahan,” ujar pemimpin studi, Elizabeth Bailey. Lantas, bagaimana bisa Planet Sembilan begitu berpengaruh pada keseluruhan Tata Surya kita? “Massa Planet Sembilan hanya 10 kali massa Bumi, tak begitu besar dibanding Jupiter yang massanya 300 kali Bumi, tetapi orbitnya sangaat besar, sehingga ia memiliki momentum angular yang besarnya setara dengan gabungan seluruh planet lain di tata surya,” ujar Konstantin Batygin, peneliti yang juga terlibat dalam studi. Meski demikian, perlu digarisbawahi bahwa hasil penemuan ini belum dapat dikonfirmasi. “Belum dapat dipastikan bahwa Planet Sembilan benar-benar ada, karena kita belum pernah melihatnya,” kata Batygin. “Apakah saya yakin Planet Sembilan ada? Tentu saja!” tegasnya. Bukti-bukti keberadaan Planet Sembilan bisa saja hadir. Batygin mengatakan bahwa beberapa kelompok astronom kini sedang menyelidiki keberadaan Planet Sembilan menggunakan beberapa teleskop terbesar di dunia. (Lutfi Fauziah. Sumber: Space.com, Huffington Post, Astronomy.com)
Selengkapnya.............

PENDIDIKAN KONSERVASI ROMBEL 144

Ujian Tengah Semester Pendidikan Konservasi Rombel 144 soal dapat didownload di sini
Selengkapnya.............

Fenomena Langka Gerhana Bulan Merah Hiasi Langit

Malam Ini, Fenomena Langka Gerhana Bulan Merah Hiasi Langit Fenomena alam langka akan terjadi dan bakal menghiasi langit Bumi pada 27 September 2015 atau Minggu malam ini. Gerhana Bulan Supermoon (Bulan merah darah), kembali menampakkan keindahannya setelah 18 tahun tidak terjadi. Pemandangan ini tentunya bakal dinantikan miliaran umat manusia di dunia.

Fenomena yang termasuk langka tersebut terakhir dilihat pada 1982, lalu 1997, sekarang 2015 dan fenomena selanjutnya akan terjadi pada 2033, yang merupakan hasil dari peristiwa trifecta.

Dr. David Wolf, mantan Astronomi NASA, mengatakan Bulan berada pada tahap yang paling penuh dan akan berada dekat dengan lokasi Bumi, yang menjadikannya supermoon. Gerhana Bulan supermoon ini akan memiliki 14 persen lebih besar dan 33 persen lebih terang dari bulan purnama pada umumnya.
Selanjutnya, manusia akan menyaksikan gerhana Bulan, di mana Bumi akan berbaris tepat antara Matahari dan Bulan, sehingga menyebabkan Bulan benar-benar jatuh dalam bayangan Bumi. Kemudian, karena sebagian dari cahaya dibiaskan atmosfer Bumi, maka Bulan akan menampakkan rona merah.
Sebagaiamana dilaporkan Digital Trends, Minggu (27/9/2015), keindahan Gerhana Bulan total supermoon langka ini akan terjadi pada Minggu sekira pukul 19.00 hingga Senin (28 September 2015), pukul 00.27 detik (semua waktu timur). Setelah melewati waktu tersebut, Bulan perlahan akan keluar dari bayangan Bumi.
Fenomena luar angkasa ini dilaporkan bisa dinikmati oleh sekira 3 miliar dari penghuni Bumi, dengan sekira 1 miliar orang di belahan Bumi Barat, 1,5 miliar orang di seluruh Eropa dan Afrika, dan sekira setengah miliar orang di bagian Barat Asia, mampu menyaksikan fenomena langka tersebut. Meski begitu, cuaca memiliki andil untuk menyaksikan fenomena langka tersebut.

Selengkapnya.............

Mengapa Venus dan Uranus Berbeda dengan Planet yang Lain


Perbandingan sumbu rotasi bumi, Venus dan Uranus
Kedua planet yang ditanyakan ini merupakan misteri di Tata Surya kita. Ini membuka kesempatan yang luas bagi teoretikus untuk bermain dengan simulasi menggunakan komputer.
Venus, berbeda dengan planet-planet lainnya, bergerak berlawanan arah (retrogade). Jika dilihat dari kutub utara, Bumi bergerak dari barat ke timur. Sebaliknya, Venus bergerak dari timur ke barat dan sekali berotasi memerlukan waktu 243 hari bumi. Seandainya kita tinggal di sana, kita akan melihat Matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur.
Kenapa ini bisa terjadi? Menurut simulasi yang dikemukakan oleh Alex Alemi dan David Stevenson, kita perlu melihat saat Tata Surya masih muda. Masih banyak bongkahan-bongkahan besar sisa pembentukan planet. Planet-planet masih mengalami tumbukan dengan bongkahan-bongkahan ini. Misalnya saja Bumi-muda kita ini bertumbukan dengan bongkahan seukuran Mars yang sekarang; pecahan-pecahan tumbukan ini terlontar ke angkasa dan menyatu menjadi Bulan.Venus pun bertumbukan dengan bongkahan-bongkahan ini. Setidaknya Venus mengalami dua kali tumbukan besar. Yang pertama seperti yang terjadi pada Bumi sebagaimana dijelaskan di atas. Venus pernah punya satelit. Namun, setelah kira-kira 10 juta tahun kemudian Venus mengalami tumbukan dahsyat di sisi yang berseberangan dari tumbukan pertama. Tumbukan kedua ini mengakibatkan perubahan arah rotasi Venus. Perubahan ini terjadi karena si planet menyerap energi orbital bulan melalui gerak pasang surut. Akibatnya, bulan tadi bergerak spiral menuju si planet hingga akhirnya keduanya bertabrakan.
Kita tinggalkan Venus dan menuju Uranus, yang tidak kalah unik dari Venus. Umumnya planet mengelilingi Matahari dengan sumbu rotasi yang hampir tegak lurus terhadap bidang orbit. Tetapi, sumbu Uranus miring 97 derajat dari sumbu tegak. Ya, Uranus bergerak menggelinding ketika mengitari Matahari. Bagaimana ini bisa terjadi pada planet yang massanya sekitar 15 kali massa Bumi?
Perlu suatu peristiwa yang mahadahsyat untuk mengubahnya menjadi sebagaimana keadaannya sekarang. Tidaklah mungkin planet itu sejak terbentuknya sudah demikian. Sebagian teori menyatakan bahwa saat pembentukan Tata Surya, cikal bakal planet sebesar Bumi bertumbukan dengan Uranus dan menyebabkan sumbu rotasinya berubah.
Ada juga teori yang tidak melibatkan tumbukan. Simulasi yang dilakukan Boue dan Laskar dari Observatorium Paris menunjukkan bahwa Uranus dahulu sekali punya bulan yang sangat besar. Massa bulan ini, meskipun hanya 0.1 % massa Uranus, mampu menarik sumbu rotasi Uranus dalam waktu jutaan tahun. Lalu, kemana bulan ini pergi? Kemungkinan besar bulan ini tertendang oleh gravitasi ketika planet masif lainnya lewat.
Selengkapnya.............

Pemanasan Global Bisa Bikin Ular Tumbuh Sebesar Bus

KOMPAS.com — Pada masa di mana Bumi mengalami pemanasan global di masa lalu, reptil adalah makhluk raksasa sementara mamalia makhluk kerdil. Perbandingannya, jika ular sebesar kuda, maka kuda hanya sebesar kucing. Dalam konferensi ScienceWriter 2013 di Gainesville, Jonathan Bloch, paleontolog dari Florida Museum of natural History mengungkapkan bahwa jika emisi karbon terus bertambah dan Bumi makin panas, di masa depan, ular bisa menjelma jadi makhluk raksasa lagi, tumbuh sampai sebesar bus. Bloch menilik kembali periode yang disebut dengan Paleocene-Eocene Thermal Maximum, sekitar 55 juta tahun lalu. Pada periode itu, Bumi mengalami pemanasan, temperatur global meningkat 6 derajat celsius dalam jangka waktu 200.000 tahun. Pada masa itu hidup kura-kura spesies Carbonemys cofrinii. Analisis fosil mengungkap, kura-kura itu sangat besar, tengkoraknya mencapai 24 cm dan cangkangnya 172 cm. Selain itu, kura-kura itu juga punya rahang kuat, sanggup memakan buaya. Pada lima juta tahun setelah punahnya dinosaurus, 60 juta tahun lalu, ada pula ular yang ukurannya sampai sebesar bus, bernama Titanoboa. Berat ular yang pada masa lalu hidup di Amerika Selatan itu mencapai 1,25 ton. Sementara pada periode itu reptil meraksasa, pada periode pemanasan lain yang terjadi 53 juta tahun lalu, mamalia mengerdil. Hal itu dikatakan oleh paleontolog dari University of Michigan, Philip Gingerich. "Fakta bahwa itu terjadi dua kali meningkatkan kepercayaan diri kita bahwa kita melihat sebab akibat, bahwa satu respons menarik dari pemanasan global adalah pengerdilan ukuran tubuh jenis mamalia," kata Gingerich seperti dikutip Daily Mail, Selasa (5/11/2013). Gingerich mengatakan, mengecilnya ukuran tubuh merupakan respons alami mamalia pada peningkatan suhu. Peningkatan suhu menyulitkan mamalia mempertahankan suhu tubuh dan semakin sulit mencari makanan. Efek pemanasan global saat ini bagi mamalia di masa depan sebenarnya bisa ditebak. Studi mengungkap, pada periode yang disebut Eocene Thermal Maximum 2 (53,7 juta tahun lalu) yang berlangsung selama 80.000 hingga 100.000, kuda mengerdil hingga hanya berukuran sebesar kucing. Menurut Bloch, jika level karbon dioksida di Bumi terus bertambah, apa yang terjadi di masa lalu bisa terulang. Spesies ular super mungkin akan muncul. Entah apa yang akan terjadi pada manusia. Bloch akan terus menggali beragam fosil untuk mengetahui bangkitnya spesies mamalia di masa lalu. Menurutnya, pemahaman tentang apa yang terjadi di masa lalu menjadi kunci persiapan menghadapi masa depan. Bloch, seperti diberitakan NBC News, Selasa, mengungkapkan bahwa Bumi memang akan secara alami punya mekanisme untuk mengurangi karbon dioksida. Namun, akan lebih baik jika manusia juga bisa berperan. Menurut Bloch, bila manusia mampu berperan, maka yang pasti manusia takkan merugi akibat pemanasan global. Peristiwa yang terjadi pada pemanasan global di masa lalu akan menjadi semacam panduan bagi manusia. Editor : Yunanto Wiji Utomo
Selengkapnya.............